Rabu, 22 Maret 2017

candi kecil

Candi Tuban yang terletak Di dusun Tuban,Desa Domasan,Kecamatan Kalidawir,Kabupaten Tulungagung,Kini Tinggal menjadi Legenda,sejak penggrusakan dan penjarahan era Tahun 1965, semua bagian candi di jarah dan di hancurkan ada yang di buat bangunan rumah dan ada yang di jual,lokasi candi tuban saat ini yang terliaht hanya sebuah kolam dan kandang ayam,sedangkan batu ambang pintu candi tuban yang mempunyai angka tahun tersebar di pemukiman warga.

Sangat Di sayangkan candi tuban ini,karena candi tuban memiliki kaitan dengan kisah angkling dharma,letak candi tuban ini juga tak jauh dari candi mirigambar
Share:

indonesia

AS.com - Penelitian Situs Tondowongso di Kediri, Jawa Timur, oleh tim gabungan Balai Arkeologi Yogyakarta, Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur, dan Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, menunjukkan, kompleks candi itu berulang kali terpapar bencana, seperti erupsi Gunung Kelud dan banjir dari Kali Konto, anak Sungai Brantas. Lantaran rawan bencana alam, kompleks candi Hindu peninggalan antara abad ke-11 dan ke-12 Masehi itu ditinggalkan.

Saat ditemukan pada 2007, Situs Tondowongso terpendam muntahan piroklastik Kelud dengan ketebalan 5-6 meter. Selain terempas material vulkanik, situs itu beberapa kali terendam banjir.

Berdasarkan hasil ekskavasi tim pada 14-25 Oktober 2014, bagian paling atas timbunan situs berupa lapisan pasir, kerikil, dan batu apung setebal 1 meter. Lalu, di bagian bawahnya terdapat bekas banjir. Kemudian, pada bagian paling bawah sebelum struktur candi terdapat lapisan material vulkanik lagi dengan ketebalan 2-3 meter.

”Dugaan kami, setelah terempas erupsi dan rusak, situs ditinggalkan masyarakat pada saat itu,” kata Ketua Tim Ekskavasi Situs Tondowongso Sugeng Riyanto, Minggu (26/10/2014), saat dihubungi dari Jakarta.

Dia memprediksi kompleks candi itu sempat dimanfaatkan dalam waktu relatif lama. Lapisan piroklastik pertama diperkirakan menimbun antara tahun 1.300 Masehi dan lapisan piroklastik terakhir menimbun pada kisaran tahun 1.500 Masehi.

Masih banyak misteri yang harus diungkap dari situs itu. Akan tetapi, menurut Kepala Balai Arkeologi Yogyakarta Siswanto, karena target penelitian jangka panjang di situs itu telah terpenuhi, tahun depan penelitian di Situs Tondowongso dihentikan terlebih dulu. ”Kami masih menunggu tahapan berikutnya,” ujarnya. (ABK/KOMPAS CETAK)
Share:

candi nusantara

Candi Penataran, adalah sebuah candi berlatar belakang Hindu yang telah ada sejak kerajaan Kediri dan digunakan sampai era kerajaan Majapahit.
Komplek candi Penataran ini merupakan komplek candi terbesar di Jawa Timur dan terletak di lereng barat daya Gunung Kelud. Terletak pada ketinggian 450 M dari permukaan laut, komplek candi Penataran ini terletak di desa Panataran, kecamatan Nglegok, Blitar.
Candi Penataran ditemukan pada tahun 1815, dan belum banyak dikenal sampai tahun 1850. Komplek candi ini ditemukan oleh Sir Thomas Stamford Raffles, yang merupakan Letnan Gubernur Jendral pada masa kolonial Inggris di Indonesia pada waktu itu.
Raffles bersama-sama dengan Dr.Horsfield seorang ahli Ilmu Alam mengadakan kunjungan ke Candi Panataran, dan hasil kunjunganya dibukukan dalam buku yang berjudul "History of Java" yang terbit dalam dua jilid. Jejak Raffles ini di kemudian hari diikuti oleh para peneliti lain yaitu : J.Crawfurd seorang asisten residen di Yogyakarta, selanjutnya Van Meeteren Brouwer (1828), Junghun (1884), Jonathan Rigg (1848) dan N.W.Hoepermans yang pada tahun 1886 mengadakan inventarisasi di komplek candi Panataran.
Nama asli candi Penataran dipercaya adalah Candi Palah yang disebut dalam prasasti Palah, dan dibangun pada tahun 1194 oleh Raja Çrnga (Syrenggra) yang bergelar Sri Maharaja Sri Sarweqwara Triwikramawataranindita Çrengalancana Digwijayottungadewa. Raja Çrnga memerintah kerajaan Kediri antara tahun 1190 - 1200, sebagai candi gunung untuk tempat upacara pemujaan agar dapat menetralisasi atau menghindari mara bahaya yang disebabkan oleh g
Share:

candi nusantara

Sekretaris Camat (Sekmat) Kecamatan Pamarican, Deni, S.Ip, Kamis (26/03/2015), mengaku pernah melakukan penelitian bersama tim arkeolog dari Jakarta pada sekitar tahun 1982. “Kebetulan waktu itu saya masih bertugas di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Ciamis. Saat itu saya ikut menjadi anggota tim peneliti keberadaan Candi Ronggeng tersebut,” kata Deni.
Meski sudah melakukan penelitian, Deni menuturkan, tim peneliti belum berhasil mengungkap dan menyimpulkan runtutan sejarah keberadaan Candi Ronggeng tersebut secara lebih detil.
“Kami belum bisa menyimpulkan kapan berdirinya candi ronggeng itu. Hanya saja, kami meyakini, Candi tersebut berdiri sejak berabad-abad tahun yang lalu, atau semasa kejayaan kerajaan galuh,” tambah Deni.
Namun demikian, lanjut Deni, hasil dari penelitian yang dilakukan Pemerintah bersama tim arkeolog saat itu, mengungkapkan, sebelum Candi Ronggeng akhirnya terkubur, kawasan itu merupakan pusat kegiatan ritual semasa kerajaan Galuh.
“Dulunya candi ini roboh. Hanya saja, belum bisa dipastikan apa penyebab robohnya candi tersebut. Sayangnya, penelitian yang kami lakukan terkendala masalah pembebasan lahan. Selain itu, saya juga pindah tugas,” ucapnya.
Selain bangunan berupa candi, kata Deni, tim peneliti juga menemukan sebuah arca Sapi Gumarang. Arca tersebut berbentuk sapi dalam ukuran kecil sebesar kelinci. “Arca inilah yang dulu justru mengeluarkan aura mistik, sehingga kamipun terpaksa menerjunkan ahli spiritual. Apalagi, kawasan ditemukannya candi dan arca diyakini merupakan kawasan yang cukup angker,” ujarnya.
Deni menambahkan, keanehan pada acara diketahui karena arca itu tidak terkubur tanah meski usianya sudah lama. Keanehan lainnya, arca Sapi Gumarang itu juga sempat mengeluarkan cahaya.
“Saya berharap, Pemerintah Kabupaten Ciamis kembali melakukan penelitian terhadap keberadaan Candi Ronggeng, yang sempat tertunda akibat masalah pembebasan lahan. Kedepan, saya juga berharap ini bisa dijadikan aset budaya dan sumber PAD bagi pemerintah,” pungkasnya. (Suherman/Koran-HR)
Share:

candi nusantara

Gedong Songo (Sembilan Bangunan) adalah nama candi yang berada di bukit pegunungan Ungaran. Candi Gedong Songo terletak pada ketinggian sekitar 1.200 DPL dengan suhu sekitar 19 – 27 °C. Lokasi Candi Gedong Songo sangat mudah di jangkau dari berbagai kota yang ada di sekitarnya. Lokasinya merupakan jalur deretan alternatif  Ungaran – Temanggung. Apabila Petualang memulai dari Kota Semarang cukup ke selatan menuju Kota Ungaran – Bandungan – Gedong Songo. Bisa di tempuh dengan waktu 1 jam perjalanan. Apabila dari Yogyakarta bisa melalui Kota Ambarawa (Tugu Palagan Ambarawa) – Bandungan – Gedong Songo, waktu perjalanan sekitar 2 jam.

Candi Gedong Songo terletak di lereng Gunung Ungaran, pada koordinat 110°20’27” BT dan 07°14’3” LS di desa Darum, Kelurahan Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Propinsi Jawa Tengah. Gedong Songo berasal dari bahasa Jawa, Gedong (rumah/bangunan) dan Songo (sembilan) yang berarti Sembilan (Kelompok) Bangunan. Apakah sejak awal candi ini ada sembilan kelompok? Atau memiliki arti lain? Hmm, belum dapat dijawab. Namun saat ini hanya ada 5 komplek candi.
Candi Gedong Songo ini banyak kemiripan dengan candi yang ada di Dieng yang berada di Kabupaten Banjarnegara (petualangan selanjutnya). Komplek candi ini di buat berderet dari  bawah ke atas perbukitan mengintari kawah sumber air panas. Dimana komplek candi di Dieng juga banyak kawah air panas yang berada tak jauh dari pusat candi. Pembuatan candi yang simetris dan berada atas bukit menunjukan perpaduan dari dua religi yaitu lokal yang menganut kepercayaan terhadap nenek moyang dan budaya hindu dimana candi sebagai tempat tinggal para dewa. Candi yang dibuat kuncup ke atas mirip dengan budaya jaman batu yaitu punden berundak-undak.  Prinsipnya bawah semakin ke puncak, maka roh nenek moyang semakin dekat dengan manusia. Nah, kedua budaya ini menyatu di Candi Gedong Songo dengan mendefinisikan sebagai tempat persembahan untuk roh nenek moyang dimana tempat untuk melakukan prosesi tersebut berada di komplek candi yang berada di atas perbukitan.
Arca-Arca di komplek Candi Gedong Songo yang dibuat pada abad ke 8 Masehi tidak lagi lengkap. Arca-arca yang di jumpai hanya beberapa yang tersisa, seperti Durga (Istri Siwa), Ghanesa (Anak Siwa), Agastya (Seorang Resi) Serta dua pengawal dewa Siwa yaitu Nandiswara dan Mahakala yang bertugas menjaga pintu candi.
Komplek Candi Gedong Songo sendiri di temukan oleh Loten, pada tahun 1740. Pada masa setelahnya, Rafles mulai mencatatnya dengan memberi nama gedong pitoe (tujuh) karena hanya menemukan 7 kelompok bangunan sekitar tahun 1804.  Namun baru pada tahun 1925, Van Braam membuat publikasi adanya candi di sekitar perbukitan Ungaran. Lalu Friederich dan Hopermans menulis tentang Gedong Songo, dan Van Stein Calefells melakukan penelitian di sekitar Komplek Candi Gedong Songo pada tahun 1908.  Sekitar tahun 1911-1912 Knebel melakukan inventarisasi semua komplek candi Gedong Songo.

Pada tahun 1916, Pemerintah Belanda secara resmi mulai melakukan penelitian di komplek candi yang diserahkan tugas pada saat itu adalah oleh Dinas Purbakala Belanda. Pada tahun 1928-1929, dilakukan pemugaran candi Gedong 1. Pada tahun 1930-1932 dilakukan pemugaran pada candi Gedong 2. Pemerintah Indonesia memulai pemugaran pada tahun 1977-1983, yang dipugar pada pada komplek candi gedong 3 , 4 dan 5.  Pada saat itu yang melakukan tugas pemugaran adalah SPSP, pada saat ini namanya berubah menjadi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala. Pada tahun 2009 Pemerintah Indonesia mulai melakukan pemetaan ulang semua komplek candi Gedong Songo.
Untuk menuju ke Gedong Songo Petualang harus hati-hati dalam berkendara, karena jalan sempit dan berkelok-kelok. Apalagi ketika turun hujan, sebaiknya jalan pelan-pelan. Setelah melewati gapura masuk Gedong Songo, silakan untuk mengunakan gigi rendah karena jalan sangat menanjak dan sempit. Ketika memasuki sekitar desa jalan semakin menanjak, terutama di bagian belokan setelah parkir luar komplek Candi Gedong Songo. Banyak motor dan mobil kewalahan dan terpaksa berhenti di tengah tanjakan karena tidak kuat untuk naik lagi.
Setelah memasuki parkir, petualang akan dibawa ke pintu masuk candi. Untuk petualang lokal dikenai biaya Rp. 6.000,- untuk petualang asal mancanegara harga tiketnya Rp. 25.000,-. Cukup terjangkau dengan sesuatu yang didapatkan nanti. Pandangan pertama Petualang akan tertuju pada gapura masuk yang mirip candi, lalu berjalan sebentar akan bertemu dengan tempat tempat pentas dan komplek candi Gedong Songo I . Kebanyakan para petualang akan berfoto ria di komplek candi ini. Untuk yang satu ini Petualang wajib antri dan sabar.
Untuk menuju komplek candi II, petualang harus ekstra kuat dan semangat. Letaknya sekitar 500 meter lebih dari komplek candi I. Pada saat ini, pengelola candi Gedong Songo membuat jalur baru yang memisahkan antara jalur Hikingers dan jalur kuda. Jalur Hikingers akan di belokkan ke kanan, melewati perbukitan dan warung makan. Beberapa Gazebo di siapkan untuk tempat istirahat para Petualang yang lelah naik ke perbukitan. Jalannya cukup bersih karena (maaf) tidak ada kotoran kuda disana-sini. Untuk jalur kuda berada di sebelah kiri yang letaknya agak berjauhan.
Bagi para Petualang yang sangat capek dan lelah, bisa menyewa kuda menuju candi-candi tertentu atau semua komplit seluruh candi. Dengan harga berkisar sekitar Rp. 25.000,- hingga Rp. 70.000,- untuk mengintari seluruh komplek candi. Ketika berada di komplek candi kedua, Petualang akan merasakan perbedaan dengan candi yang kesatu. Letaknya yang berada di ketinggian sangat bagus untuk eksplore sejarah dan berfoto ria. Sama dengan candi yang kesatu, komplek candi kedua juga hanya ada 1 buah candi. Beberapa bekas candi nampak sangat buruk karena keberadaannya tidak nampak lagi. Entah belum jadi, atau ‘diamankan’ untuk tujuan tertentu.

Setelah puas dengan komplek candi yang kedua, hanya berjarak beberapa meter ke atas. Petualang akan menemukan komplek candi yang ketiga. Komplek candi yang ketiga ini cukup lengkap berjumlah 3 buah candi yang saling berdekatan. Kalau petualang pernah ke Dieng, maka akan di temukan kemiripan dengan komplek candi Arjuna di Dieng. Dengan beberapa candi yang mengerucut ke atas dan satu buah candi berbentuk kotak di depannya. Di komplek candi ketiga ini beberapa patung masih ada seperti patung Durga, Ganesa dan pengawal dewa siwa Nandiswara dan Mahakala yang berada di samping kanan kiri pintu candi.

Di depan komplek candi ketiga tersebut juga terdapat uap panas yang berasal dari dalam bum. Pengelola Candi Gedong songo telah menyiapkan tempat untuk petualang yang menikmati air hangat dan uap panas yang konon dapat menyembuhkan penyakit kulit. Hanya berjarak sekitar 100 meter ke bawah, dengan jalanan yang mudah dilalui maka petualang bisa menikmati segarnya uap panas yang menyehatkan.
Namun petulang bisa melakukan perjalanan lagi menuju komplek candi keempat yang letaknya agak jauh dari komplek candi ke dua dan ke tiga. Hanya perlu berjalan beberapa menit mengintari bukit, maka pertualang akan tiba di komplek candi ke empat. Dan candi kelima jaraknya juga tidak jauh dari tempat tersebut. Pada komplek candi yang kelima, beberapa bangunan candi nampak rusak karena sesuatu sehingga hanya sebuah candi kecil saja yang tersisa.

Setelah lelah berpetualang, pasti merasakan lapar dan haus. Tak masalah, di sekitar Gedong Songo atau Bandungan banyak tersedia kuliner khas Ungaran. Petualang bisa menikmati sate kelinci yang sedap dengan merogoh dompet sebesar Rp. 15.000,-. atau minum wedang (minuman)  ronde yang hangat. Petualang juga bisa bisa menikmati Tahu Serasi khas Ungaran disajikan bersama dengan hangatnya sari kedelai yang manis. Jangan lupa membeli gula kacang yang tersedia di toko-toko terdekat. Bisa juga membeli aneka sayur dan buah segar di pasar tradisional Bandungan, lalu berbelanja beragam tamanan hias dan bunga-bunga langka yang indah.
Share:

candi nuasantara

Jika berkunjung ke candi Prambanan jangan lupa memperhatikan arca Roro Jonggrang yang berada di kompleks candi kebanggaan masyarakat Jawa Tengah ini. Konon, arca yang diam membisu itu menyimpan kekuatan magis. Bila bulan purnama tiba, patung tersebut akan memancarkan sinar kemerah-merahan. Benarkah?
Pelataran kompleks candi Prambanan sejak jaman dulu dikenal sangat indah saat bulan purnama menaungi dengan cahaya malamnya. Saat itulah waktu paling tepat bagi para lelaku untuk menggelar ritual baik di pelataran maupun di beberapa gugusan candi yang dia anggap paling cocok untuk tempat ngalab. Paling banyak didatangi masyarakat pada malam terang itu, biasanya gugusan yang ada di dekat arca Roro Jonggrang.
Di sini keajaiban alam akan terjadi. Tanpa sebab yang pasti, setiap kali arca Roro Jonggrang disinari bulan purnama akan mengeluarkan cahaya kemerah-merahan yang dipercaya sebagai pancaran aura. Setiap saat perjaka atau gadis yang belum menikah akan memburu sinar tersebut untuk mendapatkan tuahnya. Konon, aura arca ampuh membikin bujang gampang mendapatkan jodoh.
Saat itulah terlihat sekumpulan orang akan melakukan ritual agar mendapatkan jodoh. Kepercayaan yang sudah berlaku sejak dulu itu, meski sulit dinalar tapi kenyataan pengunjung yang pernah melakukan ritual banyak yang mengaku berhasil mendapatkan jodoh seperti yang dia idamkan.
Patung Roro Jonggrang atau disebut pula dengan Arca Durga Mahishasuramardini ini
berkaitan erat dengan legenda Bandung Bondowoso. Sebagaimana diceritakan dalam kisah Bandung Bondowoso, terciptanya candi Prambanan lengkap dengan arca Roro Jonggrang itu diawali kisah putri dari Prabu Boko yang bernama Roro Jonggrang akan dipersunting oleh seorang pemuda yang gagah, ganteng dan sakti mandraguna.
Akan tetapi perilaku pemuda yang congkak dan sombong itu, kurang berkenan di hati Roro Jonggarang sehingga dengan berbagai pertimbangan lamaran tersebut dia tolak. Cuma dilakukan secara halus, yakni dengan meminta agar Bandung Bondowoso menciptakan seribu candi dalam semalam. Tentu permintaan yang tidak masuk akal. Cuma Bandung tidak gampang menyerah, dia berani mencoba membuktikan tanda cintanya itu dengan membuatkan seribu candi.
Dengan kesaktian yang dimiliki dan mengerahkan makhluk gaib, Bandung mulai membuat candi. Ternyata, sebelum pagi pekerjaan Bandung nyaris selesai.
Keadaan tersebut menimbulkan kepanikan pada diri Roro Jonggrang. Lalu ia memerintahkan kepada para abdi dalem (pembantunya) agar menabuh lesung (tempat menumbuk padi).
Mendengar bunyi lesung bertalu-talu, disambung dengan bunyi kokok ayam bersahutan membuat para lelembut yang membantu prosesi pembuatan candi ketakutan. Mereka menyangka pagi telah tiba, dan sekaligus menghentikan pekerjaannya. Ternyata, tatkala ‘pagi’ buatan itu tiba patung yang dibuat oleh Bandung tinggal satu lagi. Dan, itu pun tidak sanggup diselesaikan.
Bandung Bondowoso sadar jika semua itu merupakan tipu daya yang dilakukan oleh Roro Jonggrang. Dengan segala kesaktiannya ia mengutuk Roro Jonggrang sehingga putri cantik itu menjadi patung untuk melengkapi seribu candi yang dibuatnya. Bagi warga sekitar candi Prambanan, patung Roro Jonggrang memiliki arti khusus. Selain memiliki aura mempercepat jodoh, juga letaknya yang sangat menonjol.
Merupakan acar putri satu-satunya yang ada di dalam kompleks candi, dan juga berada di tengah pelataran. Konon, tepat saat bulan purnama tiba patung tersebut tidak saja mengeluarkan auranya namun juga terlihat sangat cantik. Karena itu, banyak warga terutama kaum perempuan yang mendatanginya untuk mengadakan ritual khusus mendapatkan aura dari putri Prabu Boko.
Bahkan tidak jarang, ada pula pasangan suami istri yang datang ke tempat ini agar mendapatkan keturunan. Seperti halnya pendapat umum warga setempat mengatakan, persoalan enteng jodoh dan mendapat keturunan itu tergantung kehendak Tuhan. Jadi tidak ada salahnya melakukan ikhtiar dengan mendatangi arca Roro Jonggrang yang konon memiliki kelebihan tersebut. (ais)
Share:

candi nusantara

Menyusuri jalan menuju bagian selatan kompleks Istana Ratu Boko adalah sebuah perjalanan yang mengasyikkan, terutama bagi penikmat wisata budaya. Bagaimana tidak, bangunan candi di sana bertebaran bak cendawan di musim hujan. Satu diantaranya yang belum banyak menjadi perbincangan adalah Candi Ijo, sebuah candi yang letaknya paling tinggi di antara candi-candi lain di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Candi Ijo dibangun sekitar abad ke-9, di sebuah bukit yang dikenal dengan Bukit Hijau atau Gumuk Ijo yang ketinggiannya sekitar 410 m di atas permukaan laut. Karena ketinggiannya, maka bukan saja bangunan candi yang bisa dinikmati tetapi juga pemandangan alam di bawahnya berupa teras-teras seperti di daerah pertanian dengan kemiringan yang curam. Meski bukan daerah yang subur, pemandangan alam di sekitar candi sangat indah untuk dinikmati.
Kompleks candi terdiri dari 17 struktur bangunan yang terbagi dalam 11 teras berundak. Teras pertama sekaligus halaman menuju pintu masuk merupakan teras berundak yang membujur dari barat ke timur. Bangunan pada teras ke-11 berupa pagar keliling, delapan buah lingga patok, empat bangunan yaitu candi utama, dan tiga candi perwara. Peletakan bangunan pada tiap teras didasarkan atas kesakralannya. Bangunan pada teras tertinggi adalah yang paling sakral.
Ragam bentuk seni rupa dijumpai sejak pintu masuk bangunan yang tergolong candi Hindu ini. Tepat di atas pintu masuk terdapat kala makara dengan motif kepala ganda dan beberapa atributnya. Motif kepala ganda dan atributnya yang juga bisa dijumpai pada candi Buddha menunjukkan bahwa candi itu adalah bentuk akulturasi kebudayaan Hindu dan Buddha. Beberapa candi yang memiliki motif kala makara serupa antara lain Ngawen, Plaosan dan Sari.
Ada pula arca yang menggambarkan sosok perempuan dan laki-laki yang melayang dan mengarah pada sisi tertentu. Sosok tersebut dapat mempunyai beberapa makna. Pertama, sebagai suwuk untuk mngusir roh jahat dan kedua sebagai lambang persatuan Dewa Siwa dan Dewi Uma. Persatuan tersebut dimaknai sebagai awal terciptanya alam semesta. Berbeda dengan arca di Candi Prambanan, corak naturalis pada arca di Candi Ijo tidak mengarah pada erotisme.
Menuju bangunan candi perwara di teras ke-11, terdapat sebuah tempat seperti bak tempat api pengorbanan (homa). Tepat di bagian atas tembok belakang bak tersebut terdapat lubang-lubang udara atau ventilasi berbentuk jajaran genjang dan segitiga. Adanya tempat api pengorbanan merupakan cermin masyarakat Hindu yang memuja Brahma. Tiga candi perwara menunjukkan penghormatan masyarakat pada Hindu Trimurti, yaitu Brahma, Siwa, dan Whisnu.
Salah satu karya yang menyimpan misteri adalah dua buah prasasti yang terletak di bangunan candi pada teras ke-9. Salah satu prasasti yang diberi kode F bertuliskan Guywan atau Bluyutan berarti pertapaan. Prasasti lain yang terbuat dari batu berukuran tinggi 14 cm dan tebal 9 cm memuat mantra-mantra yang diperkirakan berupa kutukan. Mantra tersebut ditulis sebanyak 16 kali dan diantaranya yang terbaca adalah "Om Sarwwawinasa, Sarwwawinasa." Bisa jadi, kedua prasasti tersebut erat dengan terjadinya peristiwa tertentu di Jawa saat itu. Apakah peristiwanya? Hingga kini belum terkuak.
Mengunjungi candi ini, anda bisa menjumpai pemandangan indah yang tak akan bisa dijumpai di candi lain. Bila menghadap ke arah barat dan memandang ke bawah, anda bisa melihat pesawat take off dan landing di Bandara Adisutjipto. Pemandangan itu bisa dijumpai karena Pegunungan Seribu tempat berdiri candi ini menjadi batas bagian timur bandara. Karena keberadaan candi di pegunungan itu pula, landasan Bandara Adisutjipto tak bisa diperpanjang ke arah timur.
Setiap detail candi menyuguhkan sesuatu yang bermakna dan mengajak penikmatnya untuk berefleksi sehingga perjalanan wisata tak sekedar ajang bersenang-senang. Adanya banyak karya seni rupa hebat tanpa disertai nama pembuatnya menunjukkan pandangan masyarakat Jawa saat itu yang lebih menitikberatkan pada pesan moral yang dibawa oleh suatu karya seni, bukan si pembuat atau kemegahan karya seninya.
Share:

Sample Text

Copyright © Sejarah Candi | Powered by Blogger Design by ronangelo | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com